Paradigma Arkeologi Menurut Clarke

Halo, salam purbakala. Kali ini saya akan berbagi sedikit tentang materi perkuliahan saya ketika maba dulu. File ini ternyata tersimpan cukup lama di laptop dan tidak dipernah disentuh untuk sekian lama. Jadi daripada hanya saya simpan sendiri, mungkin jika dibagikan lebih bermanfaat.

Sebagai calon ahli arkeologi tentu harus mengenal apa itu dan bagaimana profesi seorang arkeolog. Diantara lainnya, yang paling saya ingat adalah tentang pradigma arkeologi. mengapa? pertanyaan ini pernah muncul saat ujian akhir semester, pernah juga ditanya oleh beberapa kali dosen “masih ingat kan kalian tentang paradigma arkeologi?”. Mirisnya, saya selalu melongo mendengar pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya calon ahli arkeologi mengerti. Continue reading

Situs-situs Megalitik di Banyumas

 

IMG_1877

Kabupaten Banyumas merupakan salah satu Kabupaten yang berada di sebelah barat daya Propinsi Jawa Tengah dengan Purwokerto sebagai Ibukota Kabupaten. Secara astronomis Kabupaten Banyumas berada pada antara titik koordinat 7o 20′ 11’’ – 8o 52′ 30’’ LS dan titik koordinat 109o 17′ 30’’ – 109o 40′ 30’’ BT. Luas wilayah Kabupaten Banyumas adalah 1.327,59 km2 atau setara dengan 132.759 ha yang terdiri atas 27 Kecamatan yang terbagi atas 301 desa dan 30 kelurahan. Secara administratif wilayah ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Tegal di sebelah utara, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Purbalingga di sebelah timur, Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Brebes disebelah barat, dan Kabupaten Cilacap di sebelah selatan. (http://www.banyumaskab.go.id)

Melihat lokasi Kabupaten Banyumas saat ini mungkin dapat dikatakan sebagai daerah yang unik, karena lokasinya yang berada diantara kekuatan kerajaan besar seperti Pasundan dan Mataram. Masih banyak perdebatan perihal status wilayah banyumas kala itu. Apakah masuk kedalam Continue reading

Tentang “aku” yang arogan?

blog-attention-your-happiness-is-waiting-at-the-next-exit-of-your-comfort-zone.png“Masa muda masa yang berapi-api” begitu kata raja dangdut Rhoma Irama.

Siang tadi, beberapa menit sebelum dzuhur tiba aku bertemu dengan salah satu dosenku di selasar sebuah gedung yang terbilang baru di kampusku. Dengan kemeja putih oblong, celana jeans, rambut gondrong terikat, brewok yang terlihat baru tumbuh pasca pembabatan dan kaca mata adalah ciri khas dari dosenku itu. Dia adalah Andi Putranto, biasa kupanggil Mas Andi. Salah satu ahli arkeologi klasik di Indonesia.

Seperti biasa perjumpaan kita selalu diawali dengan meminjam korek api dan merokok bersama. Biasanya, untuk menyelesaikan obrolan dengannya aku memerlukan 3 batang rokok, yaaa setengah bungkus bahkan lah. Pembicaraan bersamanya selalu ngalor ngidul. Ibaratnya dari nagasari sampai gelato, dari becak sampai pesawat tempur X-47B, dari mancing sampai terjun payung high altitude low opening. Dikalangan

Continue reading