Paradigma Arkeologi Menurut Clarke

Halo, salam purbakala. Kali ini saya akan berbagi sedikit tentang materi perkuliahan saya ketika maba dulu. File ini ternyata tersimpan cukup lama di laptop dan tidak dipernah disentuh untuk sekian lama. Jadi daripada hanya saya simpan sendiri, mungkin jika dibagikan lebih bermanfaat.

Sebagai calon ahli arkeologi tentu harus mengenal apa itu dan bagaimana profesi seorang arkeolog. Diantara lainnya, yang paling saya ingat adalah tentang pradigma arkeologi. mengapa? pertanyaan ini pernah muncul saat ujian akhir semester, pernah juga ditanya oleh beberapa kali dosen “masih ingat kan kalian tentang paradigma arkeologi?”. Mirisnya, saya selalu melongo mendengar pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya calon ahli arkeologi mengerti.

Menurut Robert Friederich, Pparadigma merupakan pandangan mendasar dari suatu disiplin ilmu tertentu yang menjadi pokok persoalan (subject matter) yang seharusnya dipelajari. Sebelumnya, paradigma pertama kali diperkenalkan dalam ilmu pengetahuan oleh seorang filsuf yang juga sejarawan dan fisikawan asal Amerika bernama Thomas Samuel Kuhn pada tahun 1962 dalam bukunya yang berjudul ‘The Structure of Scientific Revolution’. Pada bukunya tersebut Kuhn menjelaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak terjadi secara kumulatif sebagaimana ‘mitos’ yang beredar selama ini, tetapi terjadi secara revolusi. Walaupun dalam bukunya tidak dijelaskan tentang pengertian dan pemahaman mengenai paradigma secara langsung. Namun dia menjelaskan alur perubahan paradigma (lihat gambar 1).

 

Kuhn

Gambar 1 Bagan alur perubagan paradigma menurut Kuhn

Menurut Kuhn,

  • Paradigma I: Dunia ilmu pengetahuan dikuasai oleh satu paradigma dalam kurun waktu yang lama .
  • Normal Science: Dominasi ini yang berlangsung sangat lama membuat ilmuwan bekerja dan mengembangkan paradigma terebut
  • Anomalies: Muncul pertentangan dan penyimpangan, sehingga ada opini-opini hadir
  • Crisis: Karena ketidakmampuan paradigma I menjawab pertanyaan, maka munculah sebuah permasalahan
  • Revolution: Dalam masa gelap, secercah cahaya datang dan emnyajikan paradigma baru yang dianggap mampu menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh paradigma I
  • Paradigma II: Kemudian paradigma baru menguasai ilmu pengetahuan

Jika ditilik dari sejarah perkembangan ilmu arkeologi, paradigma arkeologi telah berubah beberapa kali. Sudah banyak ahli yang menawarkan pemikirannya tentang paradigma yang diharapkan dipegang teguh oleh para arkeolog. Secara umum paradigma arkeologi, yaitu menyusun sejarah kebudayaan, memahami perilaku manusia, serta mengerti proses perubahan budaya. Seperti salah satu contoh lain yang saya pahami adalah paradigma yang dikemukakan oleh Clarke, karena pendapatnya sedikit banyak berhubungan dengan tugas akhir saya.

Clarke (1972) dalam bukunya yang berjudul Models and Paradigms Comtemporary Archaeology memiliki empat tujuan yang tercermin dalam sebuah paradigma, antara lain (lihat gambar 2):

 

PARADIGMA ARKEOLOGI

Gambar 2 Bagan mindmap penjelasan paradigma arkeologi menurut Clarke

 

(1) Paradigma Morfologis (Morphological Paradigsm)
Merupakan studi atas artefak dan sistem-sistem himpunannya. Pada paradigma ini, fokus kajiannya terdapat pada struktur dan hubungan antar situs. Biasanya pendekatan yang digunakan dalam paradigma ini adalah perhitungan numerik, statistika, dan tafonomi.

(2) Paradigma Antropologis (Anthropological Paradigsm)
Merupakan studi yang banyak berbicara tentang hubungan antara data artefaktual dengan pola dan struktur sosial masyarakatnya. Pendekatan yang digunakan dalam paradigma ini adalah etnologi dan eksperimental

(3) Paradigma Ekologis (Ecological Paradigsm)
Merupakan studi atas artefak yang merupakan bagian integral dari sistem lingkungan atau ekologi dimana proses adaptasi pernah berlangsung. Pada paradigma ini banyak mengkaji tentang hubungan antar ekofak daripada artefak

(4) Paradigma Geografis (Geographical Paradigsm)
Merupakan studi atas artefak yang merupakan bagian dari fitur dan struktur suatu bentanglahan. Fokus kajian dalam paradigma ini adalah pada distribusi dan pola aktifitas manusia. Pendekatan yang digunakan adalah keruangan, lingkungan dan kewilayahan. Paradigma ini dibagi menjadi 2 jenis, yakni kajian secara mikro dan makro. Pada kajian dengan skala mikro pendekatan yang digunakan adalah pendekatan arsitektural dan permukiman arkeologisnya, sedangkan secara makro pendekatan yang digunakan adalah lokasional dan spasial.

Sumber:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s