Sampah, Serakah, dan Berkah

“Bumi ini cukup untuk 7 generasi, namun bumi ini tidak cukup untuk 7 orang manusia yang serakah” – Mahatma Gandhi

Sejak zaman pleistosen manusia sudah bergantung kepada alam untuk bisa bertahan hidup. Kondisi alam yang masih labil membuat manusia pendukung kala itu bergerak terus untuk mencari hewan buruannya. Hingga ketika memasuki zaman holosen atau zaman neolotik manusia sudah mampu mendomestikasi hewan buruannya dan bercocok tanam. Setelah masalah perut manusia mulai mendapatkan kepastian, kebutuhan baru manusia adalah kebutuhan religi. Dalam hal ini mereka juga masih memanfaatkan alam untuk kebutuhan religinya. Hal berikut memberikan gambaran bahwa 1) kebutuhan manusia itu sifatnya dinamis, serta 2) sifat dasar manusia ialah eksploratif dan eksploitatif.

Tanpa kita sadari dengan semakin rajinnya manusia berkembang biak dengan begitu pula pembukaan lahan untuk permukimanpun meningkat. Bumi yang dulu adalah hamparan tetumbuhan dan lautan  kini mulai dipenuhi dengan aktifitas manusia. Disamping itu, semakin majunya jaman yang dapat mempermudah manusia untuk pemenuhan kebutuhan (teknologi misalnya) rupanya juga memiliki dampak yang kurang baik bagi alam. Andai saja sampah-sampah yang tidak dapat diurai disatukan mungkin bisa menjadi benua baru di bumi. Tidak usah berfikir terlalu jauh, bahkan dari sisa makanan yang kita anggap itu mudah terurai rupanya ketika membusuk mereka mengeluarkan gas metan yang 23 kali lebih berbahaya dari CO2 yang menyumbang pembentukan gas rumah kaca atau yang kita kenal sebagai pemanasan global.

Jadi, jika kita berteriak lantang tentang pemanasan global namun kita masih tidak habis saat makan dan masih kurang bijak dalam penggunaan bahan tidak dapat diperbarui dan tidak mudah diurai maka, selamat anda adalah kontributor pemanasan global yang terjadi saat ini.

Seperti mengutip apa yang dikatakan Mahatma Gandhi,  “Bumi ini cukup untuk 7 generasi, namun bumi ini tidak cukup untuk 7 orang manusia yang serakah”.

Sesungguhnya Tuhan menciptakan alam memang untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Namun manfaatkanlah dengan bijak. Kenalilah dirimu untuk dapat mengatakan ‘cukup’. Sekarang coba hitunglah sudah berapa lama anda hidup di bumi? sudah berapa banyak sampahmu selama hidup? Sudah berapa banyak pohon tumbang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu? berapa liter air bersih sudah kamu buang selama ini?. Gandhi mengajak kita untuk berfikir secara makro, bahwa bumi ini bukan hanya milik manusia saja, bukan milik orang Indonesia saja namun semua orang yang ada di Bumi memiliki hak yang sama untuk memanfaatkan cipataan tuhan ini untuk pemenuhan kebutuhannya.

Percaya atau tidak menurut kajian yang dilakukan olah organisasi pangan dunia (FAO), bahkan setidaknya ada 1,3 miliar ton makanan yang terbuang dalam setahun. Dibalik 1,3 miliyar ton makanan yang terbuang setiap tahun diseluruh dunia, terdapat 45 triliun galon air yang juga terbuang. Angka tersebut mewakili 24 persen air yang digunakan untuk agrikultur. Sektor tersebut menggunakan 70 persen air bersih di seluruh dunia. Sedangkan di belahan bumi sana, saudara kita di afrika mereka bahkan untuk minum air bersih saja susah.

Keteledoran kecil ini terjadi karena dalam urusan duniawi kita selalu lupa meletakan alam sebagai stakeholders yang juga perlu diikutsertakan. Tidak hanya melulu tentang bagaimana aku bisa hidup. Namun bagaimana aku, kamu, dan mereka bisa hidup dan merasakan kearifan alam. Selama ini manusia selalu minta sesuatu kepada alam, sedangkan alam tidak pernah meminta kepada manusia.

Sudahlah, hentikan saling tunjuk dan saling menyalahkan. Jangan pernah mengharap perubahan kepada pemerintah, mantan pacar apalagi mertua. Percayalah bahwa kitalah yang mampu membawa perubahan ini.

  1. Minimalisir sisa makan dengan makan yang tidak berlebihan
  2. Gunakan kendaraan bermotor dengan bijak, Manfaatkan jasa transportasi umum atau bersepeda jika jaraknya dan kondisinya memang masih memungkinkan
  3. Kurangi penggunaan bahan tidak mudah diurai (mis: berbahan plastik), Bawalah  kantong/tas yang digunakan dalam setiap berbelanja
  4. Manfaatkan sampah disekitarmu untuk dijadikan hal yang bermanfaat
  5. Think Green, jadilah agen hijau dilingkungan sekitarmu. Gunakan lahan yang kamu memiliki untuk bercocok tanam

“THERE IS NO ONE GIANT STEP THAT DOES IT, IT’S A LOT OF LITTLE STEPS”
– Peter A. Cohen

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s